Kebakaran Hutan, Perubahan Iklim, dan Respons Keberlanjutan Berpijak pada Semangat Barefoot Architecture
Setiap kali hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ada ruang hidup yang rusak, penghidupan yang terganggu, serta hubungan antara manusia dan lingkungannya yang ikut terkoyak. Asap yang melintasi wilayah memperlihatkan bahwa dampak kerusakan ekologis tidak pernah berhenti pada batas administratif. Bagi kita, para arsitek, keadaan ini menghadirkan pertanyaan mendasar: sejauh mana cara kita merencanakan dan membangun telah memperhitungkan keberlanjutan kehidupan yang ditopangnya?
Kebakaran hutan perlu dipahami melalui hubungan antara kondisi alam, perubahan iklim, dan tindakan manusia. Peningkatan panas serta kekeringan dapat memperbesar kondisi yang mendukung terjadinya dan meluasnya kebakaran. Pada saat yang sama, penggunaan lahan, pengelolaan kawasan, dan sumber penyalaan ikut menentukan risikonya. IPCC menegaskan bahwa perubahan iklim semakin berperan dalam dinamika kebakaran bersama aktivitas manusia. Karena itu, persoalan ini membutuhkan pembacaan yang utuh, dengan memahami hubungan antara iklim, bentang alam, dan keputusan pembangunan. (ipcc.ch)
Baik kebakaran yang disengaja maupun tidak disengaja, dampaknya harus menjadi salah satu aspek yang dimitigasi dalam perencanaan lingkungan binaan. Kita telah memberi perhatian pada risiko gempa bumi, banjir, longsor, dan berbagai bencana hidrometeorologi. Perhatian yang sama perlu diberikan pada kebakaran hutan dan lahan, sesuai dengan karakter serta tingkat kerawanan setiap wilayah. Kesengajaan menyangkut tanggung jawab dan penegakan hukum, sedangkan kesiapan lingkungan binaan menyangkut keselamatan manusia. Keduanya harus berjalan beriringan.
read more
Ar. Georgius Budi Yulianto, IAI, AA
Ketua Umum 2024-2027